Iklan MGID

Batu Beddil, Jejak Meriam Kuno di Gayam Pulau Sapudi yang Terlupakan

Benda Bersejarah Batu Beddil Gayam Sumenep

Benda bersejarah sering kali hadir di tengah masyarakat tanpa disadari nilai pentingnya. Salah satu contohnya adalah Batu Beddil, sebuah objek berbentuk menyerupai meriam yang dikenal luas oleh warga di wilayah Gayam, Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep. Keberadaannya dipercaya sebagai peninggalan kerajaan masa silam yang menyimpan jejak panjang sejarah kekuasaan di kawasan Madura dan sekitarnya.

Sayangnya, di balik keyakinan masyarakat terhadap nilai historis Batu Beddil, kondisi benda tersebut justru memprihatinkan. Hingga kini, belum terlihat upaya pelestarian yang memadai, baik dari sisi perawatan fisik maupun kajian ilmiah yang dapat memperkuat statusnya sebagai peninggalan sejarah.

Lokasi dan Kondisi Batu Beddil

Batu Beddil berada di Dusun Kalade, Desa Pancor, Kecamatan Gayam, di wilayah Pulau Sapudi. Secara fisik, batu ini memiliki ukuran sedang dengan bentuk memanjang, menyerupai laras senjata tradisional atau meriam kuno. Letaknya cukup terbuka dan mudah dijangkau oleh warga sekitar. Pembahasan lain: Melon Jadi Tanaman Alternatif Tembakau

Masyarakat setempat meyakini Batu Beddil sebagai peninggalan para raja di masa lampau. Berdasarkan cerita turun-temurun, batu tersebut diyakini awalnya merupakan senjata yang digunakan untuk menaklukkan penduduk pribumi saat terjadi ekspansi kekuasaan dari luar Pulau Sapudi.

Cerita Lisan dan Peran Juru Kunci

Ahmad, warga Dusun Kalade yang kini menggantikan mertuanya sebagai juru kunci Batu Beddil, menyampaikan bahwa benda tersebut diyakini sebagai senjata prajurit pengawal Raja Kelongkong, yang oleh sebagian warga dikaitkan dengan Raja Klungkung dari Bali. Menurut kisah yang berkembang, raja tersebut pernah melakukan ekspansi dan menguasai beberapa wilayah di Pulau Sapudi ratusan tahun silam.

Cerita ini hidup dan bertahan melalui tradisi lisan masyarakat. Meski belum didukung bukti tertulis atau penelitian arkeologis mendalam, narasi tersebut menjadi bagian penting dari identitas lokal dan memori kolektif warga Desa Pancor.

Konflik Kekuasaan di Pulau Sapudi

Dalam kisah yang dipercaya masyarakat, kekuasaan Raja Kelongkong di Pulau Sapudi akhirnya goyah setelah adanya perlawanan dari kerajaan pribumi. Perlawanan ini dipimpin oleh Raja Wirobromo dan Raja Wirobroto yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit, dengan Panglima Wiro Hadi Kusumo sebagai pemimpin pasukan. Bacaan relevan: Waspada 10 Jalur Tengkorak Di Madura

Raja Wirobromo, yang bergelar Panembahan Blingi atau Ario Pulang Jiwa, dikenal sebagai kakek dari Jokotole. Sementara itu, Raja Wirobroto yang bernama asli Adi Poday dan bergelar Ario Baribir merupakan ayah dari tokoh legendaris tersebut. Kisah ini menempatkan Pulau Sapudi sebagai wilayah strategis dalam dinamika politik dan militer di masa kejayaan kerajaan Nusantara.

Makam Raja dan Simbol Kekuasaan

Di Pulau Sapudi terdapat dua makam raja yang hingga kini masih dikenal masyarakat, yakni makam Raja Wirobromo di Blingi dan makam Raja Wirobroto di Nyamplong. Meski sama-sama berada di Pulau Sapudi, kedua lokasi tersebut terpisah cukup jauh dan terletak di dataran tinggi.

Letak makam di tempat tinggi ini sejalan dengan tradisi pemakaman raja-raja Madura, sebagaimana yang terlihat di kawasan Asta Tinggi. Hal tersebut memperkuat dugaan bahwa kisah Raja Wirobromo dan Wirobroto memiliki keterkaitan erat dengan sejarah lokal Sumenep dan Madura secara umum.

Minimnya Penelitian dan Upaya Pelestarian

Hingga saat ini, keberadaan Batu Beddil di Dusun Kalade belum banyak mendapat perhatian dari kalangan akademisi maupun pemerintah daerah. Belum ada penelitian arkeologis resmi yang dapat memastikan usia, fungsi, serta asal-usul benda tersebut secara ilmiah. Perawatan yang dilakukan pun masih bersifat sederhana dan bergantung pada kesadaran warga setempat.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya nilai sejarah Batu Beddil di masa depan. Tanpa dokumentasi dan pelestarian yang tepat, benda tersebut berisiko mengalami kerusakan permanen atau bahkan terlupakan oleh generasi mendatang.

Kesimpulan

Batu Beddil di Gayam, Pulau Sapudi, merupakan contoh nyata kekayaan sejarah lokal seputar Madura yang masih menunggu untuk diungkap secara ilmiah. Cerita rakyat, tokoh-tokoh legendaris, serta kaitannya dengan dinamika kerajaan Nusantara menjadikan Batu Beddil sebagai objek yang memiliki potensi nilai sejarah tinggi.

Diperlukan perhatian lebih serius berupa penelitian, pendataan, dan pelestarian agar Batu Beddil tidak hanya bertahan sebagai cerita lisan, tetapi juga diakui sebagai bagian penting dari warisan budaya Kabupaten Sumenep dan Pulau Sapudi secara keseluruhan.

You May Also Like

About the Author: @rudam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *